BDG Connex
Shows Venues Artworks Artists Sign in Sign up ◼︎

MAIN AYO MAIN

Orbital Dago Oct 23rd - Nov 8th, 2020

Pameran Grup:
MAIN AYO MAIN
 
Perupa:
ARTHUR TAMNGE
KIKA PRISCILLA
RENDY PANDITA
TOMMY ADITAMA PUTRA
TENNESSEE CAROLINE
WILMAN HERMANA
 
23 Oktober – 8 November 2020
Pembukaan : Jum’at 23 Oktober
Jam. 16.00 WIB
 
Tempat di Orbital Dago
Jl. Rancakendal Luhur No. 7 
Bandung
 
Pameran ini bekerja sama dengan Semata Gallery
 

Pers Release 
 
Pameran Grup:

MAIN AYO MAIN

 
Perupa:
  • ARTHUR TAMNGE
  • KIKA PRISCILLA
  • RENDY PANDITA
  • TOMMY ADITAMA PUTRA
  • TENNESSEE CAROLINE
  • WILMAN HERMANA
 
23 Oktober – 8 November 2020
Pembukaan : Jum’at 23 Oktober
Jam. 16.00 WIB
 
Tempat di Orbital Dago
Jl. Rancakendal Luhur No. 7 
Bandung
 
Pameran ini bekerja sama dengan Semata Gallery
 
Pameran ini menampilkan karya-karya 6 para pelaku artistik : seniman, perancang grafis, maupun pelaku kuliner , dengan berbasis pada benda mainan masa kanan-kanak maupun dari kegemaran atau hobi yang terkait dengan benda-benda mainan. Mereka mengartikulasikan benda-benda tersebut menjadi suatu karya dengan makna yang personal maupun dikaitkan dengan berbagai fenomena disekitar kehidupan mereka. Mainan atau Toys , sebagai gagasan atau keberangkatan kekaryaan tentunya semakin lazim , terutama dalam praktik seni rupa kontemporer saat ini, baik di Indonesia maupun secara global. 
 
Keberlimpahan benda industri (seperti : mainan) dan citraan lainnya menciptakan benturan-benturan dan ketegangan dengan kondisi sosial – ekonomi – budaya urban, dimana komunitas kreatif hidup dan bekerja dalam ruang imajinasi. Sehingga menjadi sangat menarik bila kita memperhatikan ungkapan-ungkapan visual mereka. Mereka sangat sadar bahwa aspek visualisasi begitu penting sehingga unsur bentuk, warna , ikon dan karakter-karakter hingga teks-teks , diciptakan dengan menyolok mata, kadang sangat provokatif, namun terbangun konstruksi makna baru, menjadi suatu wahana komunikasi yang khas. Representasi persoalan lokal-global sering muncul jelas dalam karya-karya mereka.
 
Bio :
 
ARTHUR TAMNGE
Junior Arthur Immanuel Tamnge adalah seorang culinary designer yang mengedepankan eksplorasi dan intuisi. Semenjak tahun 2016 hingga 2019, Ia bekerja sebagai Culinary Research & Development Consultant untuk EASTERN GROUP yang berbasis di Bandung dan saat ini Arthur adalah seorang foodpreneur. Sebelumnya Arthur menempuh pendidikan vokasional di Sekolah Menengah Kejuruan Sandy Putra hingga tahun 2009.  Sebelum menetap di Bandung, Arthur aktif mencari pengalaman di restoran dan hotel baik di dalam maupun luar negeri. Restoran-restoran ini antara lain: Casa Manja, Hotel AnCasa, Malaysia  (2008-2010), Casamnaja Restaurant, Bandung (2009-2010), Dubai International Hotel (2010-2012), Mozaic Gastronomique Restaurant Fine Dining, Bali (2012-2013), The Shancaya - Bintan / Singpura (2014), The Cellar Restaurant Bandung (2015), dan Leet Sky Dining, Aston Kupang (2016). Ia juga sempat mendapatkan kehormatan untuk memasak bagi presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan staf Istana.
 
Pernyataan Seniman:
Berawal dari antusias bermain robot-robotan di masa kecil, kenangan tersebut yang membawa semangat eksplorasi dan antusias saya dalam menciptakan karya di pameran kali ini, di kembangkan melalui ilmu memasak dan pengalaman saya sebagai praktisi di industri seni memasak, lalu karya dikemas persis seperti kemasan mainan yang biasa saya beli dulu, dengan desain kemasan yang sengaja diubah sesuai perpaduan mainan dan makanan yang biasa kita makan.Karya ini juga merupakan salah satu cara saya dalam mengekspresikan diri melalui mainan dan bahan masakan. 
 
TENNESSEE CAROLINE
Perempuan pemural kelahiran Bandung 15 Oktober 1980 yang biasa dipanggil Iten ini, jatuh cinta pada seni sejak usia dini. Baginya, melukis adalah sebuah bentuk komunikasi. Menyampaikan apa yang tidak mampu disampaikannya dengan kata-kata. Sempat vakum dari melukis selama hampir 13 tahun, Iten tetap tidak mampu menyangkal panggilan hatinya. Passion tidak bisa dikuantifikasi dengan financial. Sosok gadis kecil pencemberut yang muncul dalam lukisannya adalah alter ego lulusan FSRD ITB angkatan 1999 ini.
 
Pernyataan seniman: Setelah berada dalam lingkungan komunitas diecast, saya menyimpulkan bahwa diecast itu bukan sekedar mainan saja, tapi sudah menjadi barang koleksi. Para kolektor mengkoleksi diecast beraneka ragam mulai dari yang murah hingga sampai yang mahal, dan yang paling langka sudah pasti diburu. Dalam komunitas tersebut, ada juga penikmat custom yang pada umumnya memakai decal saya sebagai seniman untuk membuat custom diecast dengan melukis pada permukaannya. Di karya ini saya menyatukan art dan diecast dengan menampilkan lukisan yang terkenal di dunia, namun wajahnya diganti dengan karakter yang sudah menjadi ciri khas lukisan saya.
 
RENDY PANDITA
Perupa asal Kota Bogor yang menetap di Bandung sejak 2008, kini aktif sebagai illustrator dan pengajar di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Ia menempuh studi magister Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung dan lulus tahun 2015. Mulai aktif berkarya semenjak tahun 2013. Karya-karya yang dihasilkan banyak terinspirasi dari fenomena sosial, film, musik dan budaya pop. Seperti pada karya-karya sebelumnya yang banyak membahas tentang kejahatan di jalanan. Selain aktif berkarya di dunia seni rupa, ia juga aktif di dunia musik independent lokal dengan membangun Somnium, bandnya yang digarap sejak 2014 dan telah menghasilkan satu album bertajuk Black campaign. Ia juga pernah aktif berkarya dalam band Gaung dan menghasilkan satu buah album bertajuk Opus Contra Naturan yang dirilis pada tahun 2017.
 
Pernyataan seniman:
6 Karya ini merupakan hasil eksplorasi warna dan pengembangan gaya visual. Pada karya-karya sebelumnya secara singkat, saya telah banyak bermain dengan warna monokrom dan media penggambaran untuk karya saya pun banyak dilakukan diatas fotografi secara digital dengan gagasan menghadirkan sesuatu yang imajinatif pada realitas yang telah dibekukan oleh fotografi. Gagasan ini merupakan upaya penggambaran kondisi psikologis manusia ketika dihadapkan dengan rasa takut. Permainan gagasan ini ingin saya sedikit kembangkan dengan berawal dari eksplorasi gaya gambar/drawing. Eksplorasi visual ini merupakan hasil recalling memories dari masa kecil, yang dipenuhi oleh produk-produk budaya populer, seperti film, game, dan mainan/toys. Proses penggalian memory masa lalu merupakan aktivitas psikologis, dimana visual  vocabulary yang tertimbun kembali dimunculkan. Apa yang pernah saya lihat, atau saya inginkan sewaktu masih kecil hingga remaja sedikit banyak mempengaruhi idiom visual yang saya gunakan pada karya-karya sekarang. Produk-produk budaya populer, benda-benda populer yang dulu tidak mampu didapatkan seiring dengan bertambahnya umur dan pengembangan karir, produk-produk tersebut bisa saya dapatkan (beli) sekarang, seperti toys/mainan, sepatu.sneakers dsb. Maka, karya ini merupakan manifestasi visual yang tertimbun, dari proses fiksasi masa kecil hingga remaja. Objek-objek dan figur yang ditampilkan seperti monster merupakan apa yang selalu saya ingin tampilkan sedari kecil hingga remaja.
 
KIKA PRISCILLA
Kika Priscilla adalah seorang desainer grafis yang dalam waktu luangnya senang untuk melukis dan membuat ilustrasi. Kika menyelesaikan studi sarjana di ITHB jurusan DKV pada tahun 2014 dan sempat bekerja di Exsport pada tahun 2015-2017 sebagai desainer grafis. Saat ini selain menjadi desainer, ia juga kerap kali mengambil proyek sampingan sebagai seorang fotografer produk. Pernah mendapat kesempatan untuk berpameran tunggal di Semata Gallery pada tahun 2019.
 
Pernyataan seniman:
Berbicara tentang ingatan masa kecil yang masih berhubungan dengan toys/games, buat saya Mario Bros adalah game yang paling membekas di ingatan saya karena Mario Bros merupakan video game pertama yang saya mainkan. Walaupun saya memainkan game tersebut hanya sebentar, tetapi segala sesuatu tentang game tersebut tidak dapat saya lupakan; mulai dari tampilan visual 8-bit nya, efek suara yang sangat khas dan mudah dikenali, hingga tokoh-tokohnya dan gambar latar belakang yang ikonis dan unik.
Karya ini merupakan hasil interpretasi saya terhadap ingatan saya pada game tersebut. Seperti halnya hanya beberapa ingatan-ingatan kecil saja yang saya ingat dari game tersebut, tampilan visual karya ini merupakan potongan-potongan kecil dari beberapa karakter/scene yang terdapat dalam game tersebut. Dan digabungkan dengan kegemaran saya dalam mengeksplorasi warna-warna.
 
TOMMY ADITAMA PUTRA
Tommy Aditama Putra adalah seorang desainer grafis yang saat ini aktif bekerja untuk EASTERN GROUP.  Selain menjadi desainer, beberapa tahun ke belakang Ia mulai kembali aktif berkarya sebagai seniman. Tommy menyelesaikan studi sarjana di studio Seni Grafis, jurusan Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain - Institut Teknologi Bandung pada tahun 2007. Semenjak lulus hingga tahun 2011, Tommy aktif terlibat sebagai partisipan di sejumlah pameran. Hingga saat ini Tommy sudah menyelenggarakan 2 kali pameran tunggal, yakni pameran KICK! (2009) dan 101 Sindhu Bumi (2019). Ia juga pernah menjadi salah satu awardee di Indonesian Art Award pada tahun 2010.
 
Pernyataan seniman: 
Memori bertahan selamanya. Mengangkat visual 3 ikon pop masa kecil, object karya ini adalah Ultraman, Rockman & Kamen Rider. Ultraman adalah potongan memori kaset video seharga 1000 rupiah per-hari sewa. Kamen Rider menjadi motivasi untuk pulang cepat & mandi sore tepat sebelum film ditayangkan di saluran televisi swasta -seminggu sekali. Sementara Rockman merupakan video game Nintendo yang tergolong sulit & saat berhasil ditamatkan episode berikutnya akan sangat ditunggu. Keterbatasan visual di masa keemasan ketiganya selalu menarik di mata saya, terutama jika disandingkan dengan kualitas yang ada di masa sekarang. Seperti halnya gambar yang pecah, outline yang patah-patah. Pixelate.
 
WILMAN HERMANA
Wilman Hermana (lahir di Bandung, 1 Februari 1982)  @osmenoswer, adalah seorang seniman dan edukator yang aktif berkarya dan berbasis di Bandung. Selama kurang lebih 15 tahun, Ia aktif berkarya menggunakan beragam material dengan fokus media pada karya-karya trimatra. Ia menyelesaikan studi sarjana di Studio Patung, Program Studi Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB 2007. Setelah lulus Ia sempat mendampingi Nyoman Nuarta, seorang seniman patung di Bandung selama kurang lebih dua tahun. Selain aktif berkarya Wilman juga peduli pada persoalan edukasi seni bagi anak-anak di tingkat formal yang menurutnya dirasa kurang ideal di Indonesia. Ia kemudian membuka sebuah ruang edukasi yang bernama semAta gallery yang berfokus pada pengajaran seni rupa interaktif yang memeperkenalkan seni secara luas kepada anak-anak dan remaja. Wilman kembali melanjutkan studi magister di jurusan yang sama di Sekolah Pascasarja, ITB pada tahun 2015. Setelah lulus di tingkat master, ia kembali aktif berpartisipasi baik sebagai seniman, edukator di tataran formal dan informal, serta sebagai penyelenggara pameran hingga saat ini. Dalam rentang karirnya juga Wilman sempat diminta untuk membuat karya-karya patung publik seperti, Patung Sepedah (Cimahi), Patung Sisingaan dan Patung Nanas di Subang.
 
Pernyataan Seniman:
Memori masa kecil yang kemudian terbongkar kembali ketika melihat mainan, terutama mainan tentara2an. kata tentara identik buat sy adalah sosok seorang ayah dan perang. maklum ayah sy seorang tentara yg jaman dulu kerjaannya adalah berperang, mulai dari perang melawan gerombolan DI/TII di Sulawesi Selatan, pembebasan Irian Barat, Perebutan Timor Timur, sampai penumpasan G30S/PKI. Kata perang sangatlah akrab ditelinga saya sampai akhirnya sy selalu bermain peran perang2an lengkap dengan senjata mainan. perang juga takubahnya sebuah permainan kaum elit untuk merebut kekuasaan, mendominasi wilayah, ataupun bahkan berbeda ideologi. Saya menyadari bahwa sebagai seorang seniman tentunya tidak dapat mencegah terjadinya perang, tetapi setidaknya sy dapat meresponnya melalui pernyataan artistik, serta menyadarkan publik tentang sekelumit problematika yang mengelilingnya. Melalui karya ini saya hendak menjadi cermin sikap peradaban mutakhir terhadap keberadaan perang, menjadi sebuah representasi dari kebudayaan popular dalam menanggapinya.
 
 
 
 

© BDG Connex 2017 - 2021