BDG Connex
Shows Venues Artworks Artists Sign in Sign up ◼︎

DEVOSI

Orbital Dago Dec 23rd, 2020 - Jan 23rd, 2021

de.vo.si
KBBI: Nomina (kata benda) Istilah Agama Katolik kebaktian yang tidak resmi, misalnya doa rosario, penghormatan kepada santo.

Tiga orang seniman asal Jakarta -- Bonifacius Djoko Santoso, Karin Josephine dan Yulian Ardhi -- menggarap DEVOSI sebagai proyek yang punya sisi ganda: Sebagai perayaan sekaligus refleksi kritis. atas gagasan-gagasan seputar religi dan spiritualitas. Meskipun menekuni medium dan material artistik yang berbeda-beda, ketiganya juga disatukan oleh kecenderungan untuk menonjolkan jejak-jejak keterampilan tangan dalam mengolah kembali simbol-simbol dan aikon.

Periode pameran: 23 Desember 2020 - 23 Januari 2021

kurator: Agung Hujatnikajennong @agungjennong

Pembukaan
23 December 2020, mulai pukul: 14.00

Bio seniman:

Bonifacius Djoko Santoso @grimhildmcgrath (lahir tahun 1972 di Jakarta) lulus dari Program Studi Seni Keramik, Jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung pada tahun 2000.

Karin Josephine @karin.josephine (lahir tahun 1988 di Jakarta) lulus dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, School of Design, BINUS University, Jakarta pada tahun 2011.

Yulian Ardhi @yulian_ardhi (lahir tahun 1977 di Semarang) lulus dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung pada tahun 2000.

DEVOSI
 
Berbeda dengan ‘pertentangan abadi’ antara sains dan agama, hubungan seni dan agama tidak pernah benar-benar oposisional, meskipun tidak senantiasa mesra juga. Agama, sebagai sebuah ajaran, telah menyumbang banyak pada dunia penciptaan artistik. Dalam kesenian yang sering digolongkan sebagai ‘tradisional’, manifestasi ajaran agama sangatlah jelas. Sementara dalam seni modern, seni dan agama cenderung selalu berada dalam tegangan. 
 
Pada abad ke-20 di Barat, seni mengalami sekularisasi sehingga sepenuhnya terpisah dengan agama. Tapi dalam masyarakat yang lain, prinsip-prinsip seni modern justru mengalami ‘perjumpaan’ yang konstan dengan agama. Di Indonesia, perjumpaan seni dan agama tergolong intens dan cenderung dinamis. Secara umum, perbedaan mencolok terlihat pada masa sebelum dan setelah reformasi. Jika pada masa Orde Baru manifestasi agama dan spiritualitas dalam seni rupa cenderung kuat, setelah 1998 terjadi perubahan orientasi pada praktik penciptaan seni, terutama setelah agama menguat sebagai institusi yang masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan sosial dan politik. Gesekan-gesekan antara ‘seni’ dan ‘agama’—keduanya sebagai subkultur yang menganut otonomi masing-masing—menjadi tak terhindarkan oleh karena penguatan fundamentalisme. Kebebasan ekspresi selalu berada dalam posisi terancam oleh sensor. Di lain pihak, para seniman juga merespon gejala itu dengan kritis.  
 
Sekurang-kurangnya sejak awal 2000-an, internet berperan besar mentransformasikan kehidupan umat manusia di dunia melalui penyebaran informasi secara masif dan acak, tidak terkecuali ajaran-ajaran agama. Dalam beberapa bulan belakangan, ketika pandemi menyergap dan melumpuhkan kegiatan-kegiatan sosial dan fisik, fungsi internet menjadi semakin vital sebagai media komunikasi dan informasi. Masa pandemi di abad ke-21 menjadi momentum boom internet yang menakjubkan, di mana internet menjadi media utama yang menjembatani, bahkan menggantikan berbagai ritual agama. Dan ketika kematian oleh karena virus semakin mengancam, agama menjadi salah satu sandaran untuk mengikis kekhawatiran. Ritual agama seperti doa dan liturgi turut bertranformasi semakin deras ke dalam layar-layar digital, yang nilai-nilai spiritualnya semakin tereduksi oleh sistem kapitalistik yang menopang teknologi media baru.           
 
Bagi Bonifacius Djoko Santoso, Karin Josephine dan Yulian Ardhi, proyek pameran ini adalah soal bagaimana menghayati apa yang mereka imani sebagai ‘agama’, sambil terus memelihara jarak dengan realitas sosial yang memproduksinya. Istilah devosi—berarti “ritual tak resmi”—yang mereka adopsi sebagai judul dari proyek ini, di satu sisi, menunjukkan bahwa karya-karya mereka adalah perwujudan spiritualitas relijius yang sungguh-sungguh. Dalam pameran ini, sangat jelas bagaimana Djoko, Karin dan Yulian mendaurulang aikon-aikon relijius dan relik Katolik ke dalam karya-karya mereka secara idiosinkratik. Tapi di sisi lainnya, penggarapan karya-karya mereka juga diniatkan sebagai suatu respon kritis atas penguatan agama sebagai institusi sosial hari-hari ini. Secara intensional, DEVOSI menonjolkan jejak-jejak keterampilan tangan, suatu pengalaman menubuh  sebagai suatu kritik atas hilangnya ‘aura’ dalam ritual-ritual keagamaan. Di sini, kata-kata dari Boris Groys menjadi terdengar sangat bermakna, “Dalam dunia kontemporer, agama telah menjadi ihwal citarasa pribadi, yang berfungsi sama halnya dengan seni dan desain.”
 
Agung Hujatnikajennong
Kurator pameran 
 
 
Pembukaan
23 December 2020, mulai pukul: 14.00

Bio seniman:

Bonifacius Djoko Santoso (lahir tahun 1972 di Jakarta) lulus dari Program Studi Seni Keramik, Jurusan Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung pada tahun 2000. Setelah lulus, Djoko mengajar di berbagai institusi Pendidikan di Jakarta dan Tangerang, antara lain di Universitas Pelita Harapan, SMA Kolese Gonzaga, Universitas Bunda Mulia, Universitas Paramadina, Erudio School of Art, International Design School, dan Universitas Matana. Pada tahun 2015, Djoko bersama teman-teman membentuk kelompok seni rupa bernama Killskill. Djoko telah berpartisipasi dalam berbagai pameran kelompok, termasuk di dalamnya Pertemuan dengan Kegelapan di Space, Galeri Pasar, Jakarta (2014); Ex Luce Tenebris di Ruang Artspace, Jakarta (2015); Eksplorasi Visual akan Keberanian di Suar Artspace, Jakarta (2015); Napas Lama di Roemah Seni Sarasvati, Bandung (2016); Mythologies: The Holy Myth of Clay di Institut Français d'Indonésie, Bandung (2017); dan Quiet Riot on Stage di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2017). Pada tahun 2018, Djoko meraih ranking 8 dari sepuluh pemenang kompetisi 2018 High Art by Natural Cannabis Company di California, Amerika Serikat. Djoko tinggal dan bekerja di Jakarta.
 
Karin Josephine (lahir tahun 1988 di Jakarta) lulus dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, School of Design, BINUS University, Jakarta pada tahun 2011. Karin saat ini bekerja sebagai desainer grafis dan copywriter lepas, dan juga aktif sebagai seniman kolase. Sebelumnya Karin pernah bekerja sebagai in-house graphic designer di AppsFoundry, Jakarta; community liaison di Suar Artspace, Jakarta; collage mural artist di Selatan Café; dan in-house graphic designer dan community host di ke:kini ruang bersama, Jakarta. Pada tahun 2016, pameran tunggal Karin, Terali Memori diselenggarakan di Lir Space, Yogyakarta. Karin juga telah berpartisipasi di berbagai pameran kelompok, antara lain AQUA Temukan Indonesiamu Auction di Energy Building, Jakarta (2013); Sikancil:  Duet Collage Exhibition di Common House, Jakarta (2014); Kembali ke Masa Depan di Roemah Seni Sarasvati, Bandung (2014); WWF March for Elephant Exhibition di Car Free Day, Jakarta (2014); Kopi Keliling x Localfest di Grand Indonesia, Jakarta (2015); Memori Lembaran di Ruang Artspace, Jakarta (2015); Chaos of Memories di Omnispace, Bandung (2016); Ultrabiotik di Malang (2016); 20th Pop Up Exhibition by Philly Art Collective di Philadelphia, Amerika Serikat (2017); Verbindung // Connection di Stein Egerta, Liechtenstein (2017); dan Unknown Asia Art Fair di Herbis Hall, Osaka, Jepang. Karin tinggal dan bekerja di Jakarta.
 
 
Yulian Ardhi (lahir tahun 1977 di Semarang) lulus dari Program Studi Desain Komunikasi Visual, Jurusan Desain, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung pada tahun 2000. Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia bekerja sebagai ilustrator di Tabloid Soccer, Jakarta; kemudian pernah bekerja sebagai desainer grafis di DesignLab, Jakarta; graphic design consultant di UNICEF Timor-Leste, Dili, Timor-Leste; mengajar di SMA Kolese Gonzaga, Jakarta; dan mengajar di Universitas Bunda Mulia, Jakarta. Pada tahun 2015, Yulian bersama Djoko dan teman-teman lain membentuk kelompok seni rupa bernama Killskill. Yulian telah berpartisipasi dalam pameran kelompok antara lain Jepang Hoi-hoi di The Japan Foundation, Jakarta (2010); Innervisions di Institut Français d'Indonésie (2011); Tiada Hilang Bersemi Lagi di Padi Artground, Bandung (2012), Pertemuan dengan Kegelapan di Space, Galeri Pasar, Jakarta (2014); Ex Luce Tenebris di Ruang Artspace, Jakarta (2015); Eksplorasi Visual akan Keberanian di Suar Artspace, Jakarta (2015); Napas Lama di Roemah Seni Sarasvati, Bandung (2016); Quiet Riot on Stage di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2017); Unknown Asia Art Fair di Herbis Hall, Osaka, Jepang (2017); Dunia Komik – 2018 GG Indonesia Art Award di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2018); All the Small Things 3 di Can’s Gallery, Jakarta (2019); dan SumonarFest 2020 (segmen Monument of Hope) secara online di sumonarfest.com (2020). Yulian juga pernah mengkurasi pameran komik dan ilustrasi untuk Muhammad “Mice” Misrad, Indonesia Senyum – 20 Tahun Mice Berkarya, bersama Evelyn Huang, di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2018); dan Beng Rahadian, Cerita Makan Nusantara di Bentara Budaya Jakarta (2018). Saat ini Yulian tinggal dan bekerja di Jakarta, sebagai ilustrator, desainer grafis dan editor komik lepas.
 

© BDG Connex 2017 - 2021