BDG Connex
Shows Venues Artworks Artists Sign in Sign up ◼︎

CRITICAL FACES : Isa Perkasa Dan Setiyoko Hadi

Orbital Dago Jun 21st - Jul 31st

 
Pameran
CRITICAL FACES 
Isa Perkasa Dan Setiyoko Hadi
 
21 Juni – 31 Juli 2022
 
Pembukaan 
Selasa 21 Juni 2022
Mulai jam 16.00 WIB hingga 20.00 WIB
 
Pameran diresmikan oleh :
Sari Koeswoyo, Pegiat Seni
 
Pameran dibuka setiap hari
Mulai jam 9.00 hingga 20.00 WIB
Gratis untuk umum
 
 
Pameran CRITICAL FACES atau wajah – wajah kritikal , yang ditampilkan oleh kedua seniman : Isa Perkasa (lahir di Majalengka, 1964) dan Setiyoko Hadi (lahir di Solo, 1963)  menyoroti dampak  sebagian para elit politik terutama terkait dengan hiruk-pikuk kontestasi politik seperti pemilu dan bagaimana mereka menjalankan pemerintahan ini dan pengaruhnya pada kehidupan sosial – politik masyarakat Indonesia. Potret atau wajah-wajah yang digambarkan dalam karya-karya kedua perupa ini menggambarkan suatu kondisi dimana individu maupun kelompok-kelompok masyarakat menjadi arena permainan , menjadi obyek, bahkan korban dari suatu system politik tertentu. Wajah-wajah atau potret pada karya mereka merepresentasikan keambiguan, kemenduaan manusia-manusia sekitar kita saat ini , bahkan mungkin saja wajah-wajah itu adalah kita sendiri.
 
Isa Perkasa sudah sejak lama membuat simbol-simbol manusia dengan wajah -wajah yang kaku dan ambigu, bertopeng, janggal penuh metafor. Wajah lelaki yang gerowong diisi dengan benda-benda atau mahluk, dengan pakaian berjas, atau seragam aparat pemerintahan, dan lainnya. Karya-karyanya dalam seri “ Republik Negeri Folower “ dimulai ketika masa dimulainya Pilpres dan Pilkada sekitar tahun 2018, merupakan suatu respon terhadap dampak kepada keseharian. Seringkali kita saksikan para politikus mendekati berbagai golongan masyarakat untuk mendapatkan pengikut dengan menggunakan berbagai cara, seperti pembagian uang (serangan fajar) , paket sembako dan lainnya, bahkan tak ragu menggunakan isu-isu keagamaan, rasial kepada golongan-golongan tertentu yang berdampak pada polarisasi kehidupan sosial masyarakat terutama diranah sosial-media. 
 
Isa mengungkapkan: 
“ Konten menjadi sumber pendapatan, jalan hidup disemua kalangan, banyak yang berlomba mencari folowers, politikpun masuk ke wadah ini, negeri ini menjadi republik folowers, yang layak berkuasa adalah folowernya banyak (Pernyataan Isa Perkasa, 2022)
 
Tetapi secara ironis ketika mereka sudah mendapatkan jabatan itu , tak jarang dari mereka kemudian tersandung berbagai kasus  korupsi. Isa menggambarkannya dengan memunculkan berbagai simbol seperti Ikan, tikus, kucing keberuntungan , celengan ayam hingga hamburger, sebagai makna kerakusan, keinstanan, kesejahteraan, kelicikan, dan lainnya yang berkaitan dengan tujuan-tujuan para elit politik itu.  Pada karya-karyanya , Isa banyak menggambarkan persoalan itu dalam nuansa kelabu, dengan teknis menggambar dengan arang, pensil, media campur dengan krayon , soft pastel dan akrilik.  
 
Subyek perbedaan pandangan dan keberpihakan politis atau keterbelahan , gap atau polarisasi dalam kehidupan sosial masyarakat mendapatkan perhatian khusus pada karya-karya Setiyoko Hadi, dimana pada masa Pilpres lalu kehidupan dilingkungan pertemanannya terbelah , terutama banyak terjadi diranah sosmed seperti grup – grup whatsapps maupun facebook. Mereka saling membela calon masing-masing dan saling mengomentari satu sama lain , bahkan saling menjatuhkan. Tak jarang dari perseteruan itu beberapa anggota membentuk grup-grup whatsapp baru yang anggotanya teman-teman yang sepihak. Subyek itu ia ungkapkan kedalam lukisan, yakni dengan memindahkan foto-foto dari teman – temannya ke atas kanvas melalui media khusus, dengan menggabungkan masing-masing dua wajah kedalam satu kanvas yang kemudian menambah goresan-goresan , retakan-retakan serta pecahan cat diatasnya. Teknik lain yang digunakan adalah merajut dua drawing kertas bergambar para tokoh-tokoh Nasional kedalam satu frame sehingga terjadi efek optis atau silung. 
 
Pada karya-karyanya terdahulu, Setiyoko juga melukis banyak wajah seperti lukisan para tokoh dunia yang sudah wafat , karya media campur dengan wajah Kristus yang bersilang dengan potret dirinya. Potret dirinya yang hitam putih muncul dalam instalasi drawing diatas kertas , dibumbui dengan juntaian benang-benang sehingga bernada spiritual , suatu pencarian jati diri ke dalam batin. 
 
“ Ziarah ke dalam diri adalah upaya mengenali jati diri yg terus menerus sepanjang hidup ini, melalui pendakian atau turunan,berputar putar,berulang ulang sebagai sebuah proses.
Berhenti atau gagal memahami diri berhenti dan gagal pula kita memahami sesama,alam semesta bahkan Tuhan, dan wajah adalah pintu masuknya.” (pernyataan Setiyoko Hadi, 2022)
 
Rifky ‘ Goro’ Effendy 
Orbital Dago
 
 
Tentang seniman:
 
Setiyoko Hadi
Lahir di Solo , 1963
Pendidikan : 1985 Seni Lukis FSRD ITB  
 
Pameran Tunggal:  
2012, “Pulang”,  Galeri Pelita, UPH, Tangerang 
 
Sepilihan Pameran Bersama:
1993   Pameran Pamesrani, Galeri Nasional Jakarta 
1994   Pameran Bienial Seni Rupa Jakarta IX, Taman Ismail Marzuki  
2011 Pameran bersama PRESERVE HUMANKIND,  di Jakarta Art  District, LG East Mall Grand Indonesia 
2013   Pameran bersama Integritas, Galeri Maranatha  UKM, Bandung   
2016  Pameran Zona#1 “Versi-Resepsi” di Thee Huis Gallery, Taman Budaya Jawa Barat
2018  Pameran “Standing with The Masters”, Jababeka Convention Centre (JCC) Cikarang
2019  Pameran Biennale Jawa Barat, Thee Huis Gallery Bandung  
2020 Pameran  “Etalase” di galeri Rumah Proses
2021  Pameran “Jauh di Mata Dekat di Garis” di Rumah Anak Bumi  
2021 Pameran Tunggal “Nyanyian Ziarah” dalam rangka Pameran Tunggal 51 Perupa
         di Musyawarah Art Space Cinere Depok
2022 Pameran Gambar “Gerak-Gerik” di Musyawarah Art Space Cinere Depok
 
ISA PERKASA
Lahir di Majalengka, 1964 
 
1985– 1993 : Belajar di seni grafis FSRD-ITB
1997: 
- Artist in residence “ Nagasawa Art Park” di Tsuna, Japan.
- Study wood-block print Japan dan kertas Japan
1999: Artist in residence di Pacific Bridge Galery, Oakland, CA, USA.
1996-2009 : Kurator Galeri Rumah Teh Taman Budaya Jawa Barat, Bandung
2019-kini : 
- Kurator Galeri Pusat Kebudayaan, Bandung
- Mendirikan Institut Drawing Bandung di Bandung
 
Penghargaan
1998 : Lima besar Phillip Morris Indonesia Art Award di Jakarta
1998 : Juror Choice lima besar Phillip Morris Asia Art Award di Hanoy, Vietnam .
 
Pameran Tunggal
1992 :  “ Nude” Drawing di lorong FSRD ITB
1996 : “ Bercanda Dengan Cermin” Instalasi drawing di CCF Bandung
1999 : “ Kawin” Drawing kontemporer di Galeri Rumah Teh Bandung
2000 : “Teka Teki Silang Pendapat” Drawing di Koong Galeri Jakarta
2004 : “ Drawing Bandung di Common Room Bandung 
2006  : “ Nada Hitam” Drawing di Galeri Adira Bandung
2009 : “Ingatan Yang Diseragamkan” di Selasar Sunaryo Artspace Bandung
2010 : “Seragam Yang Diingatkan” di Galeri Canna Jakarta
2011 : “UNIFORMED MEMORIES” Di artipoli art gallery Belanda
 
Pameran Bersama Terpilih
1993: Biennale Seni rupa kontemporer Jakarta IX di TIM Jakarta
1997 : Isa Perkasa dan Bunga Jeruk di Cemara Galeri Jakrta
1998 : Wood block print making di Sanko Galeri , Kobe, Jepang.
1999 : “Pancaroba Indonesia” Pacific Bridge Gallery Oakland, CA USA
2000 : Reformasi Indonesia Protest in Bleed 1995-2000 Museum Nusantara, Belanda.
2014 : “Everyday is Like Sunday”, Langgeng Gallery Magelang
2015 : Instalasi artepak annual jeprut di galeri Soemarja FSRD-ITB
2016 : Manifesto V, “Arus” galeri Nasional Jakarta
2017 : Banjir, IASR ITB di galeri YPK Bandung
2018 : XYZ ART _ UNLIMITID di galeri gedung gas Bandung
 
Sejak Tahun 1988 hingga kini banyak membuat karya dan membentuk kelompok. Performance Art, diantaranya kelompok Sumber Waras, Kelompok Perengkel Jahe dan Kelompok Nyeuneu Nyeni.
 
 
 
 
 

 
Pameran
CRITICAL FACES 
Isa Perkasa Dan Setiyoko Hadi
 
21 Juni – 31 Juli 2022
 
Pembukaan 
Selasa 21 Juni 2022
Mulai jam 16.00 WIB hingga 20.00 WIB
 
Pameran diresmikan oleh :
Sari Koeswoyo, Pegiat Seni
 
Pameran dibuka setiap hari
Mulai jam 9.00 hingga 20.00 WIB
Gratis untuk umum
 
 
Pameran CRITICAL FACES atau wajah – wajah kritikal , yang ditampilkan oleh kedua seniman : Isa Perkasa (lahir di Majalengka, 1964) dan Setiyoko Hadi (lahir di Solo, 1963)  menyoroti dampak  sebagian para elit politik terutama terkait dengan hiruk-pikuk kontestasi politik seperti pemilu dan bagaimana mereka menjalankan pemerintahan ini dan pengaruhnya pada kehidupan sosial – politik masyarakat Indonesia. Potret atau wajah-wajah yang digambarkan dalam karya-karya kedua perupa ini menggambarkan suatu kondisi dimana individu maupun kelompok-kelompok masyarakat menjadi arena permainan , menjadi obyek, bahkan korban dari suatu system politik tertentu. Wajah-wajah atau potret pada karya mereka merepresentasikan keambiguan, kemenduaan manusia-manusia sekitar kita saat ini , bahkan mungkin saja wajah-wajah itu adalah kita sendiri.
 
Isa Perkasa sudah sejak lama membuat simbol-simbol manusia dengan wajah -wajah yang kaku dan ambigu, bertopeng, janggal penuh metafor. Wajah lelaki yang gerowong diisi dengan benda-benda atau mahluk, dengan pakaian berjas, atau seragam aparat pemerintahan, dan lainnya. Karya-karyanya dalam seri “ Republik Negeri Folower “ dimulai ketika masa dimulainya Pilpres dan Pilkada sekitar tahun 2018, merupakan suatu respon terhadap dampak kepada keseharian. Seringkali kita saksikan para politikus mendekati berbagai golongan masyarakat untuk mendapatkan pengikut dengan menggunakan berbagai cara, seperti pembagian uang (serangan fajar) , paket sembako dan lainnya, bahkan tak ragu menggunakan isu-isu keagamaan, rasial kepada golongan-golongan tertentu yang berdampak pada polarisasi kehidupan sosial masyarakat terutama diranah sosial-media. 
 
Isa mengungkapkan: 
“ Konten menjadi sumber pendapatan, jalan hidup disemua kalangan, banyak yang berlomba mencari folowers, politikpun masuk ke wadah ini, negeri ini menjadi republik folowers, yang layak berkuasa adalah folowernya banyak (Pernyataan Isa Perkasa, 2022)
 
Tetapi secara ironis ketika mereka sudah mendapatkan jabatan itu , tak jarang dari mereka kemudian tersandung berbagai kasus  korupsi. Isa menggambarkannya dengan memunculkan berbagai simbol seperti Ikan, tikus, kucing keberuntungan , celengan ayam hingga hamburger, sebagai makna kerakusan, keinstanan, kesejahteraan, kelicikan, dan lainnya yang berkaitan dengan tujuan-tujuan para elit politik itu.  Pada karya-karyanya , Isa banyak menggambarkan persoalan itu dalam nuansa kelabu, dengan teknis menggambar dengan arang, pensil, media campur dengan krayon , soft pastel dan akrilik.  
 
Subyek perbedaan pandangan dan keberpihakan politis atau keterbelahan , gap atau polarisasi dalam kehidupan sosial masyarakat mendapatkan perhatian khusus pada karya-karya Setiyoko Hadi, dimana pada masa Pilpres lalu kehidupan dilingkungan pertemanannya terbelah , terutama banyak terjadi diranah sosmed seperti grup – grup whatsapps maupun facebook. Mereka saling membela calon masing-masing dan saling mengomentari satu sama lain , bahkan saling menjatuhkan. Tak jarang dari perseteruan itu beberapa anggota membentuk grup-grup whatsapp baru yang anggotanya teman-teman yang sepihak. Subyek itu ia ungkapkan kedalam lukisan, yakni dengan memindahkan foto-foto dari teman – temannya ke atas kanvas melalui media khusus, dengan menggabungkan masing-masing dua wajah kedalam satu kanvas yang kemudian menambah goresan-goresan , retakan-retakan serta pecahan cat diatasnya. Teknik lain yang digunakan adalah merajut dua drawing kertas bergambar para tokoh-tokoh Nasional kedalam satu frame sehingga terjadi efek optis atau silung. 
 
Pada karya-karyanya terdahulu, Setiyoko juga melukis banyak wajah seperti lukisan para tokoh dunia yang sudah wafat , karya media campur dengan wajah Kristus yang bersilang dengan potret dirinya. Potret dirinya yang hitam putih muncul dalam instalasi drawing diatas kertas , dibumbui dengan juntaian benang-benang sehingga bernada spiritual , suatu pencarian jati diri ke dalam batin. 
 
“ Ziarah ke dalam diri adalah upaya mengenali jati diri yg terus menerus sepanjang hidup ini, melalui pendakian atau turunan,berputar putar,berulang ulang sebagai sebuah proses.
Berhenti atau gagal memahami diri berhenti dan gagal pula kita memahami sesama,alam semesta bahkan Tuhan, dan wajah adalah pintu masuknya.” (pernyataan Setiyoko Hadi, 2022)
 
Rifky ‘ Goro’ Effendy 
Orbital Dago
 
 
Tentang seniman:
 
Setiyoko Hadi
Lahir di Solo , 1963
Pendidikan : 1985 Seni Lukis FSRD ITB  
 
Pameran Tunggal:  
2012, “Pulang”,  Galeri Pelita, UPH, Tangerang 
 
Sepilihan Pameran Bersama:
1993   Pameran Pamesrani, Galeri Nasional Jakarta 
1994   Pameran Bienial Seni Rupa Jakarta IX, Taman Ismail Marzuki  
2011 Pameran bersama PRESERVE HUMANKIND,  di Jakarta Art  District, LG East Mall Grand Indonesia 
2013   Pameran bersama Integritas, Galeri Maranatha  UKM, Bandung   
2016  Pameran Zona#1 “Versi-Resepsi” di Thee Huis Gallery, Taman Budaya Jawa Barat
2018  Pameran “Standing with The Masters”, Jababeka Convention Centre (JCC) Cikarang
2019  Pameran Biennale Jawa Barat, Thee Huis Gallery Bandung  
2020 Pameran  “Etalase” di galeri Rumah Proses
2021  Pameran “Jauh di Mata Dekat di Garis” di Rumah Anak Bumi  
2021 Pameran Tunggal “Nyanyian Ziarah” dalam rangka Pameran Tunggal 51 Perupa
         di Musyawarah Art Space Cinere Depok
2022 Pameran Gambar “Gerak-Gerik” di Musyawarah Art Space Cinere Depok
 
ISA PERKASA
Lahir di Majalengka, 1964 
 
1985– 1993 : Belajar di seni grafis FSRD-ITB
1997: 
- Artist in residence “ Nagasawa Art Park” di Tsuna, Japan.
- Study wood-block print Japan dan kertas Japan
1999: Artist in residence di Pacific Bridge Galery, Oakland, CA, USA.
1996-2009 : Kurator Galeri Rumah Teh Taman Budaya Jawa Barat, Bandung
2019-kini : 
- Kurator Galeri Pusat Kebudayaan, Bandung
- Mendirikan Institut Drawing Bandung di Bandung
 
Penghargaan
1998 : Lima besar Phillip Morris Indonesia Art Award di Jakarta
1998 : Juror Choice lima besar Phillip Morris Asia Art Award di Hanoy, Vietnam .
 
Pameran Tunggal
1992 :  “ Nude” Drawing di lorong FSRD ITB
1996 : “ Bercanda Dengan Cermin” Instalasi drawing di CCF Bandung
1999 : “ Kawin” Drawing kontemporer di Galeri Rumah Teh Bandung
2000 : “Teka Teki Silang Pendapat” Drawing di Koong Galeri Jakarta
2004 : “ Drawing Bandung di Common Room Bandung 
2006  : “ Nada Hitam” Drawing di Galeri Adira Bandung
2009 : “Ingatan Yang Diseragamkan” di Selasar Sunaryo Artspace Bandung
2010 : “Seragam Yang Diingatkan” di Galeri Canna Jakarta
2011 : “UNIFORMED MEMORIES” Di artipoli art gallery Belanda
 
Pameran Bersama Terpilih
1993: Biennale Seni rupa kontemporer Jakarta IX di TIM Jakarta
1997 : Isa Perkasa dan Bunga Jeruk di Cemara Galeri Jakrta
1998 : Wood block print making di Sanko Galeri , Kobe, Jepang.
1999 : “Pancaroba Indonesia” Pacific Bridge Gallery Oakland, CA USA
2000 : Reformasi Indonesia Protest in Bleed 1995-2000 Museum Nusantara, Belanda.
2014 : “Everyday is Like Sunday”, Langgeng Gallery Magelang
2015 : Instalasi artepak annual jeprut di galeri Soemarja FSRD-ITB
2016 : Manifesto V, “Arus” galeri Nasional Jakarta
2017 : Banjir, IASR ITB di galeri YPK Bandung
2018 : XYZ ART _ UNLIMITID di galeri gedung gas Bandung
 
Sejak Tahun 1988 hingga kini banyak membuat karya dan membentuk kelompok. Performance Art, diantaranya kelompok Sumber Waras, Kelompok Perengkel Jahe dan Kelompok Nyeuneu Nyeni.
 
 
 
 
 
 

© BDG Connex 2017 - 2022