BDG Connex
Shows Venues Artworks Artists Sign in Sign up ◼︎

Zoominar QUO VADIS SENI GRAFIS INDONESIA

Repost @tisnasanjaya

QUO VADIS SENI GRAFIS INDONESIA

Seni Grafis dilahirkan sebagai anak bungsu dalam keluarga seni rupa modern Indonesia. Sejarah mencatat awal mula seni grafis dipelopori oleh Mochtar Apin, Baharuddin Marasutan dan Suromo pada tahun 1945-an. Untuk menyampaikan pesan kemerdekaan RI ke dunia internasional mereka membuat kumpulan 30 karya grafis cukilan kayu yang dikirimkan ke negara-negara lain di dunia.
Patriotisme para pegrafis itu menandai gerakan seni grafis Indonesia dalam konteks perkembangan seni, budaya, dan politik negeri.
Pendidikan formal medium ini diberikan di Seni Rupa ITB sejak 1965 dan berlangsung hingga sekarang. Sebagai karya yang lahir dari teknologi cetak, pesertanya cukup banyak. Fasilitas cetak manual tersedia di ITB. Maka sarjana seni grafis bertambah.
Sayangnya jumlah lulusan yang meningkat tidak dibarengi ketersediaan fasilitas cetak di luar kampus. Perkembangan pun tersendat, pegrafis jebolan akademi tidak memperlihatkan kontribusi yang signifikan dalam arena seni rupa nasional.
Perkembangan teknologi komputer dan digital menyebabkan seni grafis konvensi lama menyusut ditinggal oleh perupa yang menyukai digitalitas yang kian memukau generasi baru.
Lalu, pertanyaan mendasar bagaimana hari esok seni grafis Indonesia? Mari kita diskusikan.

Setiawan Sabana @setiawansabana
Agustus 2020

#alumnisenirupaitb #senigrafisindonesia #setiawansabana #tisnasanjaya #bandungartmonth2020 #bdgconnex2020 #edankeun #kenormalanbaru

Repost @tisnasanjaya 

QUO VADIS SENI GRAFIS INDONESIA

 Seni Grafis dilahirkan sebagai anak bungsu dalam keluarga seni rupa modern Indonesia. Sejarah mencatat awal mula seni grafis dipelopori  oleh Mochtar Apin, Baharuddin Marasutan dan Suromo pada tahun 1945-an. Untuk menyampaikan pesan kemerdekaan RI ke dunia internasional mereka membuat kumpulan 30 karya grafis cukilan kayu yang dikirimkan ke  negara-negara lain di dunia. 
Patriotisme para pegrafis itu menandai gerakan seni grafis Indonesia dalam konteks perkembangan seni, budaya, dan politik negeri.
Pendidikan formal medium ini diberikan di Seni Rupa ITB sejak 1965 dan berlangsung hingga sekarang. Sebagai karya yang lahir dari teknologi cetak, pesertanya cukup banyak. Fasilitas cetak manual tersedia di ITB. Maka sarjana seni grafis bertambah.
Sayangnya jumlah lulusan yang meningkat tidak dibarengi ketersediaan fasilitas cetak di luar kampus. Perkembangan pun tersendat, pegrafis jebolan akademi tidak memperlihatkan kontribusi yang signifikan dalam arena seni rupa nasional. 
Perkembangan  teknologi komputer dan digital menyebabkan seni grafis konvensi lama menyusut ditinggal oleh perupa yang menyukai digitalitas yang kian memukau generasi baru.
Lalu, pertanyaan mendasar bagaimana hari esok seni grafis Indonesia? Mari kita diskusikan.

Setiawan Sabana @setiawansabana 
Agustus 2020

#alumnisenirupaitb #senigrafisindonesia #setiawansabana #tisnasanjaya #bandungartmonth2020 #bdgconnex2020 #edankeun #kenormalanbaru
 

© BDG Connex 2017 - 2020