BDG Connex
Shows Venues Artworks Artists Sign in Sign up ◼︎

The Populist Manifesto #2 Dikuratori oleh Gumilar Ganjar

Curators Choice: EDANKEUN Aug 20th - Oct 20th


The Populist 
Manifesto #2 
curated by: 
Gumilar Ganjar


participating artist (by alphabetical order): 
Budi Adi Nugroho Patra Aditia 
Radi Arwinda Rega Rahman Rendy Pandita


The Populist Manifesto #2 
Pluralitas yang berlaku dalam praktik seni rupa kontemporer menawarkan ragarendrem potensi eksplorasi artistik untuk dikembangkan secara eksponensial. Premis ini pula yang membuka kanal baru bagi seni kontemporer untuk dapat beririsan dengan medan artistik dan disiplin lain di luar dirinya, pun pada semangatnya untuk merangkul dan mengaitkan diri kepada masyarakat. Satu fenomena yang menjadi indikatif dari hal ini adalah meleburnya batasan antara seni tinggi dan seni rendah. Pada era modern, seni menjadi begitu eksklusif dan terbatas hanya bagi kaum elit dan budayawan, sementara ‘seni’ yang beredar di masyarakat dinilai tidak pantas, trivial, dan banal. Seiring dengan munculnya skeptisisme pada modernisme yang dinilai tidak mampu memenuhi janjinya, batasan-batasan yang sebelumnya di bangun kemudian diragukan, dikritisi, bahkan mulai ditinggalkan1.

The Populist
Manifesto #2

curated by:
Gumilar Ganjar

participating artist (by alphabetical order):
Budi Adi Nugroho Patra Aditia
Radi Arwinda Rega Rahman Rendy Pandita


The Populist Manifesto #2
Pluralitas yang berlaku dalam praktik seni rupa kontemporer menawarkan ragam potensi eksplorasi artistik untuk dikembangkan secara eksponensial. Premis ini pula yang membuka kanal baru bagi seni kontemporer untuk dapat beririsan dengan medan artistik dan disiplin lain di luar dirinya, pun pada semangatnya untuk merangkul dan mengaitkan diri kepada masyarakat. Satu fenomena yang menjadi indikatif dari hal ini adalah meleburnya batasan antara seni tinggi dan seni rendah. Pada era modern, seni menjadi begitu eksklusif dan terbatas hanya bagi kaum elit dan budayawan, sementara ‘seni’ yang beredar di masyarakat dinilai tidak pantas, trivial, dan banal. Seiring dengan munculnya skeptisisme pada modernisme yang dinilai tidak mampu memenuhi janjinya, batasan-batasan yang sebelumnya di bangun kemudian diragukan, dikritisi, bahkan mulai ditinggalkan1. Dalam spirit yang kritis tersebut, idiom- idiom popular kemudian muncul dan mengadvokasikan statusnya sebagai satu praktik yang kontributif dalam merepresentasikan peradaban. Secara gradual praktik ini mulai mendapatkan rekognisi dan mendapatkan legitimasi sebagai idiom seni. Bahkan belakangan, sirkulasi dan eksistensinya baik dalam seni rupa kontemporer maupun peradaban secara umum kian menjadi mapan.
Meski terjadi dalam konteks yang lebih spesifik, kemunculan idiom popular yang merepresentasikan sifat kritis pada seni modern yang hegemonik disinyalir juga muncul dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Gejala awal dari hal ini, setidaknya, dapat ditelusuri dalam semangat kritis 'seni rupa baru2' yang kala itu meresahkan stagnansi perkembangan seni rupa yang dinilai terlalu dipengaruhi kekuasaan. Bersamaan dengan idiom lainnya, kehadiran idiom popular dianggap dapat memperkaya khazanah seni rupa Indonesia dan memberikan nafas pluralitas di tengah kondisi seni rupa yang kian menjadi homogen. Semangat populis ini kemudian berkembang meluas dan kian terasa mendekati penghujung dekade 1990an, dimana kala itu sejumlah kolektif seni yang berbasis di Yogyakarta3 secara konsisten mengembangkan budaya popular melalui caranya masing-masing. Kala itu hal yang melatarinya adalah tekanan dan infiltrasi kebudayaan popular luar sebagai akibat dari keterbukaan media dan perkembangan teknologi informasi utamanya televisi. Motivasi yang kemudian dibangun adalah menciptakan budaya populis yang masih terbuka terhadap perkembangan budaya massa termutakhir namun tetap relevan dengan konteks kultural setempat. Pada dekade berikutnya, di Jakarta4 sendiri mulai muncul inisiatif untuk memperbincangkan budaya popular dalam konteks yang lebih luas dan majemuk, yakni dalam bingkai polemik kehidupan urban dan metropolis. Pada prosesnya, kedua inisiatif ini kemudian berkembang sedemikian rupa melalui alurnya masing-masing untuk merespon persoalan yang terus meluas dan mendalam dengan luaran yang begitu derivatif, menjadi kanal yang menjembatani antara isu-isu urban dan kebudayaan massa untuk dapat dibicarakan dalam seni rupa kontemporer.
Menempatkan Bandung sebagai salah satu pilar aktif dalam praktik seni rupa kontemporer Indonesia dalam konteks budaya popular dan massa ini barangkali akan terasa problematis. Kontribusi Bandung, jika ditilik dari praktisinya, tentu hadir dan tidak serta merta non-eksisten. Namun, menyatakan bahwa Bandung merupakan agen aktif yang mendorong perkembangan budaya popular pun agaknya kurang sahih. Meski Bandung mengklaim dirinya sebagai 'pusat kreativitas' nasional, kedekatan antara budaya popular dengan aktivitas kota - pun pada praktik seni rupa kontemporer - dapat dinyatakan tidak begitu signifikan.

Jika esai ini boleh mengasumsikan, hal yang menjadikan Bandung sebagai lokus yang kurang produktif dalam menyangga praktik budaya massa adalah kurangnya saluran dan dukungan yang bersumber baik dari kebijakan pemerintah, inisiatif privat dan industri, serta perspektif masyarakat pada budaya popular yang terpolarisasi. Bandung sejatinya dianugerahi oleh kehadiran beragam akademi seni dan desain serta akses pada infrastruktur produksi yang cukup efisien sehingga berhasil menjadi inkubator praktisi kreatif serta sentra produksi purwarupa produk kreatif. Anggapan ini memang menjanjikan, namun patut disayangkan Bandung masih memerlukan topangan lain untuk dapat benar-benar menjadi kota yang mampu menyangga kreativitasnya untuk dapat benar-benar terasa. Berbeda dengan Jakarta dan Yogyakarta, Bandung tidak disangga oleh aktivitas ekonomi yang bergairah dan semangat kultural yang populis dan lebih merata. Minimnya landasan dan konteks penyangga ini yang kemudian 'memaksa' potensi kreativitas Bandung untuk mencari dukungan dan basis landasan ke wilayah lainnya. Pola yang cukup sering terlihat adalah dengan menjadikan Jakarta sebagai etalase, atau pijakan lain (jika yang bukan utama) untuk terus dapat bertahan dan berkembang. Pola ini sejatinya juga terlihat dalam konteks keprofesian seni rupa kontemporer yang lebih spesifik, dimana seniman-seniman Bandung - bersamaan dengan agensi lainnya - justru lebih aktif berkegiatan dan mencari kesempatan pameran di luar kota Bandung.
Pameran The Populist Manifesto #2 sendiri kemudian mencoba untuk membuka kemungkinan untuk membicarakan idiom popular dalam konteks seni rupa Bandung. Pameran ini akan mencoba untuk mengidentifikasi, sekiranya ada, karakter partikular dari praktik tersebut, serta mengurai persoalan atau latar spesifik yang menyangga kekhususan tresebut . Pameran ini sendiri merupakan lanjutan dari program The Populist Manifesto #1 yang sebelumnya diselenggarakan di bulan Februari 2020. Pada edisi kali ini, partisipan seniman yang dilibatkan akan diperluas sehingga rentang permasalahan yang dibahas diharapkan dapat menjadi lebih majemuk dan beragam.

——
Biodata

*Patra Adita*
Patra Aditia, lahir di Bandung pada 6 Desember 1980, adalah seorang seniman, komikus, dan akademisi seni yang terus mengeksplorasi dan menggali potensi dari  komik sebagai idiom ekspresi seni. Ia menempuh studi sarjana dan masternya di bidang Desain Komunikasi Visual, FSRD ITB. Selain aktif mengajar di program studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Industri Kreatif - Telkom University, Ia juga aktif berpameran baik di Indonesia maupun di luar negeri, seperti Jepang, CIna, Malaysia, Korea, Mongolia, dan Taiwan. Beberapa pameran yang pernah melibatkan dirinya adalah program 'Borehands Artist Residency' di Fukuoka, Jepang (2016) dan juga terlibat pada edisi berikutnya yang diselenggarakan di Malaysia (2017). Patra juga sempat meraih juara ketiga dari kompetisi 'Gudang Garam Indonesian Art Award pada tahun 2018 yang kala itu bertajuk 'World Comics'. Salah satu karya komiknya yang cukup mendapatkan sorotan adalah 'Koil Dragon]ian Warrior', sebuah hasil kolaborasi dengan band kenamaan 'KOIL' pada tahun 2016.

*Budi Adi Nugroho*
Budi Adi Nugroho,  Lahir di Pare-pare, 10 Januari 1982, menempuh studi keseniannya di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, dari program Sarjana (2000), Magister (2010), hingga Doktor (2015), tempat dimana Ia saat ini juga aktif mengajar. Ditengah kesibukannya sebagai seorang akademisi, Budi juga terus berupaya meluangkan waktunya untuk terus berkesenian. Mengetahui Seni Rupa ITB dari orangtua ketika memutuskan tidak ingin kuliah selulus SMA. Putusannya untuk memilih studio patung dan seni rupa dilatari dari keleluasaan eksplorasi dan minimnya batasan dalam menuangkan gagasan dan ekspresi personal yang ditawarkan oleh studio dan program studi tersebut. Budi bertekad untuk terus berperan sebagi akademisi dan juga seniman sejak awal kelulusannya, meski kala itu Ia belum sepenuhnya memahami tahapan yang akan dilalui setelah lulus kuliah. Terlibat dalam ingar-bingar boom seni rupa Indonesia 2008, Budi banyak mendapatkan pelajaran dan memantapkan ketertarikan untuk mengeksplorasi lebih lanjut praktik keseniannya. Budi pernah menyelenggarakan pameran tunggal 'Toys With Semionaut Soup' di Galeri Soemardja pada tahun 2011.

*Radi Arwinda*
Radi Arwinda, lahir pada tahun 1985, tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan atmosfer kesenian. Ia merupakan putra dari salah satu maestro seni rupa Bandung yang juga merupakan salah satu pengajar senior di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, dimana Radi menyelesaikan studi sarjana dan masternya. Radi dikenal sebagai seorang seniman yang sering menjukstaposisikan citraan-citraan tradisional Cirebon yang diwarisinya dari kedua orangtuanya melalui kehidupan masa kecilnya, yang kemudian dikombinasikan dengan citraan-citraan popular Amerika dan Jepang. Radi terlibat dalam beragam pameran baik di Indonesia maupun di luar negeri, seperti 'Bandung New Emergence' di Selasar Sunaryo Art Space, 'Recent Art from Indonesia: Contemporary Art Turn' di Sobin Art Puls, Singapura, dan 'The 3rd Jakarta Contemporary Ceramic BIennale' yang diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Proyek solo terdekatnya, 'Muja: Shrine of Devotion' diselenggarakan di ArtHK 2011, Hong Kong.

*Rendy Pandita* 
Rendy Pandita adalah seniman dan ilustrator asal Kota Bogor yang menetap di Bandung sejak tahun 2008. Selain itu, saat ini Ia juga aktif mengajar di program studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Industri Kreatif, Telkom University. Rendy mulai aktif berkarya semenjak tahun 2013. Rendy menempuh studi sarjananya di bidang Desain Komunikasi Visual - Telkom Universitiy dan lulus pada tahun 2013, dan melanjutkannya ke jenjang magister di bidang seni rupa di FSRD ITB dan lulus pada tahun 2017. Karya-karya yang dihasilkan banyak terinspirasi dari fenomena sosial, film, musik dan budaya pop. Seperti pada karya-karya sebelumnya yang banyak membahas tentang kejahatan di jalanan. Rendy pernah menyelenggarakan pameran tunggal yang bertajuk 'Psychonarmental' pada tahun 2019 di Semata Gallery, Bandung, dan menyelenggarakan pameran duo bersama Patra Aditia pada tahun 2020 dalam pameran 'The Populist Manifesto #1' di Ruang Segi Empat, Bandung. Selain aktif berkesenian, ia juga aktif di dunia musik independent lokal dengan membangun Somnium, bandnya yang digarap sejak 2014 dan telah menghasilkan satu album bertajuk 'Black Campaign'. Ia juga pernah aktif berkarya dalam band Gaung dan menghasilkan satu buah album bertajuk 'Opus Contra Naturam' yang dirilis pada tahun 2017.

*Rega Rahman*
Rega Rahman adalah seorang seniman dan desainer lulusan program studi seni rupa, studio seni grafis, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Ia menyelesaikan studi sarjananya hingga tahun 2012. Pengalamannya terjun sebagai desainer grafis banyak memberikan perspektif baru yang kemudian mempengaruhi pemikiran dan gayanya dalam berkarya, karena proses desain sendiri berlaku dalam metode dan prinsip yang berbeda dari proses pencicptaan seni yang selama ini lebih familiar dengannya. Proses pengumpulan citra menempati posisi yang penting dalam proses artistik Rega, tercermin dalam ketertarikannya untuk mengumpulkan gambar-gambar komik yang mewarnai masa kecilnya. Ketertarikan ini kemudian Rega gali dalam karya-karyanya belakangan ini. Setelah ragam citra komik tersebut terkumpul, Rega kemudian mengkomposisikan sebuah kolase abtsrak darinya untuk mencipataan bentuk-bentuk baru dan mengkonservasi kesan populis secara keseluruhan. Ia mendapatkan inspirasi dari kebudayaan popular yang cukup dekat dengan keseharian dan kehidupan personalnya. Sebagai seoran seniman, Rega telah berpartisipasi dalam beragam pameran baik di Indonesia, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Korea Selatan. Proyek residensi terakhirnya dilakukan dalam program JMA Artist Residency di Korea Selatan yang diakhiri dengan penyelenggaraan pameran tunggal yang bertajuk 'Help Me!! Speedwagon' di Korea Selatan.



 
 

© BDG Connex 2017 - 2020