BDG Connex
SHOWS VENUES ARTWORKS ARTISTS SIGN IN SIGN UP ◼︎

Dec, 16th - 22nd, 2017

OPEN CALL FOR ARTISTS: Kejuaraan Kelas Bulu
Bandung,
Sebuah pameran kolektif yang diinisiasi oleh Klub Remaja dengan menawarkan format pameran dan wicara seniman yang berbeda dengan melibatkan apresiator sebagai bagian dari pameran tersebut, melibatkan 5 (lima) seniman muda Bandung, antara lain; AY Sekar F, Igi Anjangbiani, Luthfi Zulkifli, Mohammad Heikal dan Radityo Luthfi Fadhil. Tercatat 22 email masuk ke [email protected] yang berisikan ketertarikan untuk terlibat dalam pameran yang diinisiasi oleh Klub Remaja. Karya-karya yang terlampir dalam email tersebut kemudian dijadikan sebagai studi banding bagi eksplorasi artistik seniman - seniman Klub Remaja. Klub Remaja sengaja tidak mencantumkan keterangan ataupun pernyataan bahwa karya-karya yang dikirim kemudian akan dipilih dan ditampilkan dalam pameran. Dalam publikasi yang diluncurkan kurang lebih dua minggu yang lalu, Klub Remaja hanya meminta untuk mengirimkan karya-karya terbaik dari siapapun yang sekiranya tertarik. Sepakat mengangkat tajuk OPEN CALL FOR ARTISTS: Kejuaraan Kelas Bulu, Klub Remaja mempertanyakan betapa minim dan tertutupnya kompetisi-kompetisi seni (terutama seni rupa) yang hadir di Indonesia, terutama di kota Bandung. Dalam OPEN CALL FOR ARTISTS, Klub Remaja berupaya untuk mengelaborasi format kompetisi seni (sistem open call, penjurian, hingga pemberian penghargaan) melalui eksperimen bentuk pameran/kompetisi tanpa melepaskan kekuatan artistik dari masing-masing individunya.
 
Press Release
A Project by Klub Remaja

OPEN CALL FOR ARTISTS:
Kejuaraan Kelas Bulu

A Group Exhibition by
:
AY Sekar F
Igi Anjangbiani
Luthfi Zulkifli
Mohammad Heikal
Radityo Luthfi Fadhil

Curated by:
Bob Edrian

Opening:
Saturday, 16 December 2017, 7 PM.

Exhibition:
17 – 22 December 2017, 11 AM – 6 PM.

Artist Talk & Awarding Ceremony:
Monday, 18 December 2017, 5 PM.
With Notable Juries From Bandung:
- Mufti Priyanka (@amenkcoy)
- Defta Ananta (@_dumsurfer)
- Arbha Witarsa (@arbha)

KOLEKT
Jl. Gudang Selatan No. 22
Bandung 40113.


Elaborasi Seni Transisi Klub Remaja

Pameran Open Call for Artists: Kejuaraan Kelas Bulu menghadirkan ragam eksplorasi yang antara lain menampilkan olahan imaji-imaji budaya populer oleh Igi Anjangbiani dan Radityo Luthfi Fadhil, elaborasi tradisi lokal oleh AY Sekar F., serta kombinasi gagasan konseptual dan visual minimalis oleh Luthfi Zulkifli dan Mohammad Heikal. Kelima seniman tersebut, yang saat ini sepakat tergabung dalam wadah Klub Remaja, nampak mengolah gagasan-gagasan seni transisi (seni pop, minimal, dan konseptual) dalam sejarah seni rupa Barat, terutama periode 1960-an – 1970-an. Sebuah periode yang identik dengan gagasan posmodern yang berupaya meruntuhkan kepercayaan bahwa seni bersifat universal.

Tendensi perlawanan dalam seni-seni transisi di era posmodern setidaknya memiliki nafas yang sama dengan eksplorasi kekaryaan Klub Remaja saat ini. Pemilihan kata ‘remaja’ yang identik dengan usia transisi menuju dewasa pun memperkuat relasi antara Klub Remaja dengan langgam kesenian di era transisi kebudayaan Barat tersebut. Meskipun usia masing-masing anggota Klub Remaja saat ini tidak bisa lagi dikategorikan ke dalam rentang usia remaja, setidaknya terdapat tiga kata kunci (yang menggambarkan usia remaja) yang diserap oleh Klub Remaja sebagai gagasan berkarya: transisi, bermain, dan perlawanan. Ketiga kata kunci tersebut kemudian diolah dalam tiga ranah berbeda: kekaryaan, format pameran, dan wacana kesenian.

Dari sisi kekaryaan, seperti yang telah disebutkan di awal pengantar kuratorial, kelima anggota Klub Remaja setidaknya memunculkan tiga langgam kesenian transisi. Seni pop yang muncul di pertengahan hingga akhir 1950-an dianggap sebagai salah satu bentuk perlawanan serta sebuah penanda berakhirnya era seni modern di Barat. Langgam ini kemudian menjadi wilayah eksplorasi Igi Anjangbiani dan Radityo Luthfi Fadhil. Igi yang cukup lama berkecimpung dalam dunia toys art kemudian menghadirkan tegangan antara nostalgia mainan-mainan di masa kecilnya dengan gagasan ‘mempermainkan’ teks dan imaji dalam wadah mainan-mainan premium saat ini. Sementara Radityo berupaya menghadirkan fantasi-fantasi konsumerisme dalam bentuk-bentuk yang mengingatkan kita pada makanan-makanan cepat saji.

Dengan mengangkat tradisi Batik sebagai pemicu utama berkarya, AY Sekar F. nampak berada dalam gagasan besar posmodern yang menekankan sifat lokal kesenian. Sekar mengolah bentuk paradoks antara yang tak hingga (Tuhan/Semesta) dan yang terbatas (Manusia/Alam) melalui manipulasi olahan kainnya. Di samping itu, ia juga mengangkat gagasan relasi dan persamaan antara tradisi membuat Batik dengan aktivitas berdoa melalui elaborasi visual karyanya. Kembali ke wilayah kesenian transisi Barat, Luthfi Zulkifli dan Mohammad Heikal tertarik pada visual seni minimalis yang seringkali dianggap berada di antara seni modern dan posmodern. Di satu sisi, secara visual cenderung formalis, di sisi lain, secara gagasan bersifat konseptual. Luthfi, melalui eksplorasi medium tiga dimensionalnya, berupaya menghadirkan gagasan-gagasan ilmiah berkaitan dengan pembengkokkan ruang dan waktu. Sementara Heikal tertarik dengan fenomena cahaya yang kemudian ia kaitkan dengan elaborasi teks sebagai perwakilan dari ketertarikannya yang lain, ranah linguistik.

Selain wilayah kekaryaan yang bersifat individu, secara kolektif Klub Remaja juga berupaya menghadirkan ‘permainan’ dalam bentuk olahan format pameran. Masing-masing anggota Klub Remaja bersepakat untuk melibatkan audiens pameran ke dalam aktivitas menilai karya. Hal ini juga berkaitan erat dengan kritik mereka terhadap perhelatan-perhelatan kesenian, terutama seni rupa, yang berbentuk kompetisi. Dalam hal ini, Klub Remaja ingin menghadirkan suasana penjurian ataupun penilaian yang selama ini dianggap terlalu ekslusif dan tertutup.

Bob Edrian, 2017
About / Terms / Privacy / Partnership

© BDG Connex 2017 - 2018

© BDG Connex 2017 - 2018