BDG Connex
Shows Venues Artworks Artists Sign in Sign up ◼︎

NGINDEUW : Arya Sudrajat's Solo Exhibition

Selasar Sunaryo Art Space Jan 31st - Mar 1st

Selasar Sunaryo Art Space turut mengundang anda untuk hadir dalam:
NGINDEUW
Pameran Tunggal Arya Sudrajat

Pembukaan:
Jumat, 31 Januari 2020
19:00 WIB
*gratis dan terbuka untuk umum

Menurut khazanah lokal bahasa Sunda ngindeuw berarti memungut barang bekas. Selain menggambarkan proses memungut langsung objek dan material—yaitu kaleng bekas—dari tempat pemrosesannya, ngindeuw berhubungan juga dengan kecenderungan Arya yang “memungut” gagasan berkarya dengan berkeliling dan mengamati lingkungan sekitar. Ketertarikan Arya terhadap kaleng bekas berawal saat ia mengikuti residensi transit #4. Saat itu ia mencermati dan merespons secara artistik kaleng-kaleng cat bekas yang telah digunakan oleh para pelukis di Jelekong. Hal ini merupakan upaya Arya untuk memotret sisi lain kampung pelukis ini, tempat di mana ia lahir, besar serta berkesenian hingga sekarang.
Dalam pameran tunggal perdananya ini Arya makin mencermati karakter-karakter khas kaleng bekas, serta melepaskannya dari asosiasi Jelekong, serta asosiasi-asosiasi yang lain. Melalui metode ngindeuw, Arya mencoba memberi nilai estetis pada kaleng-kaleng bekas itu melalui lukisan dan patung-instalasi, sembari menanggalkan nilai utamanya dalam keseharian, yaitu nilai fungsionalnya.

Sampai Jumpa!
#bandungexhibition #bandungartmonth


NGINDEUW
Proyek Solo Arya Sudrajat



31 Januari – 1 Maret 2020
 Bale Tonggoh, Selasar Sunaryo Art Space
 Kurator: Danuh Tyas



 


Arya Sudrajat nampaknya adalah seniman yang gemar mengamati sekelilingnya. Gagasan dan ide berkarya justru ia jemput dengan ke luar studio dan mengamat-amati apa yang ada di sekitarnya. Lingkungan di Jelekong adalah ruang amatannya, tempat gagasan dan ide ia “pungut”.


Sejak terlibat dalam proses residensi dalam program Transit #4 di Selasar Sunaryo dua tahun lalu, Arya tertarik pada satu objek yang ia temukan di lingkungan sekitar rumahnya, dan itu adalah kaleng. Sejak itu kaleng hadir dalam karya-karyanya, dan sejak itupula lukisan menjadi medium tempat Arya mengakrabi kaleng sebagai gagasan sekaligus objek berkarya.


Kini, dua tahun berlalu setelah itu Arya terus berproses dengan karyanya. Ada yang berkembang serta bergeser. Dari teknik, komposisi, serta sudut pandang dalam lukisan, dari lukisan hingga menjadi objek dan nampaknya juga caranya mengakrabi kaleng. Bergeser fokus dari melukis ke membuat objek, dengan begitu sekaligus menggeser perlakuannya pada kaleng. Tidak lagi hanya menjadi objek pengamatan yang diamati-amati dan dihadirkan kembali dalam citra, kini kaleng justru hadir sebagai medium dan perkara itu sendiri. 


Bagi Arya sendiri proyek solonya kali ini selain sebagai ruang untuk menunjukkan proses pengembangan dalam karyanya, lain dari itu adalah ruang untuk memulai proses pergeseran dalam karyanya. Maka dalam proyek kali ini, karya yang tampil tidak hanya berupa lukisan, tetapi juga objek. Tidak hanya dua dimensi, tetapi juga tiga dimensi.



Ngindeuw sendiri dalam penggunaan sehari-hari memiliki arti aktivitas atau kegiatan memunguti barang-barang bekas. Di Jelekong sendiri, istilah ini salah satunya identik dengan “industri” pengumpulan dan pengolahan kembali kaleng-kaleng bekas. Dan dalam beberapa hal dan pada sudut pandang tertentu ngindeuw adalah istilah yang “kena” untuk mengidentifikasi salah satu aspek dasar dalam proses berkarya Arya Sudrajat.


 

© BDG Connex 2017 - 2020