BDG Connex
Shows Venues Artworks Artists Sign in Sign up ◼︎

Dalam Apropriasi : Praktek Apropriasi dalam karya-karya seni rupa kontemporer di Indonesia Oleh Rifky " Goro" Effendy

Curators Choice: EDANKEUN Aug 20th - Oct 20th


>> Curator Choice


Dalam Apropriasi 
Praktek Apropriasi dalam karya-karya seni rupa kontemporer di Indonesia Oleh Rifky " Goro" Effendy @rifkygoro 
 
Apropriasi merupakan suatu metoda yang sering dilakukan dalam praktek seni rupa dalam beberapa dekade di Indonesia. Apropriasi menjadi suatu pendekatan kepada subyek : pembongkaran sejarah dan identitas. Apropriasi tak hanya dilakukan didalam dunia kesenian tetapi dalam praktek-praktek kreatif serta sosial-ekonomi lain, seperti periklanan, film dan sebagainya. Istilah apropriasi (approriation), atau kira-kira “ penyetaraan “, sering terdengar dalam berbagai perbincangan seni rupa , maupun budaya kontemporer. Terutama dalam diskusi yang menyangkut perkembangan budaya seni rupa pasca – modern (posmodern). Apropriasi selalu bersanding dengan jargon-jargon yang diuarkan kaum posmodernis, seperti allegory, parodi (pelesetan), eklektik atau bricolage. Aproprasi selalu mengandung gejala kemiripan atau keserupaan suatu imaji terhadap imaji lainnya. Seni rupa dengan kecenderungan apropriasi ternyata sangat lazim dipraktekan di barat sejak awal abad ke – 20 bahkan sebelumnya. 
 
Sejarawan Robert S. Nelson, di sebutkan bahwa, mengapropriasi sesuatu yang melibatkan upaya “pengambil – alihan”. Dalam seni rupa barat , istilah apropriasi sering merujuk pada penggunaan elemen-elemen pinjaman dalam suatu kreasi karya seni. Peminjaman elemen tersebut termasuk citraan atau gambar, bentukan atau gaya dari sejarah seni atau budaya populer, maupun material serta teknik-teknik dari lingkup bukan seni. Sejak dekade 1980-an istilah ini juga mengacu kepada yang lebih khusus, mengutip karya dari seniman lain untuk menciptakan suatu karya baru. Dalam lingkup di Indonesia, kemunculan praktek seni modern menjadi problematik namun menarik. Pertama bahwa bentuk seni lukis tersebut diperkenalkan oleh Barat lewat proses kolonialisasi. Terutama berlangsung di abad 19, dimana pribumi seperti Raden Saleh Sjarif Bustaman (1807 – 1880) mendapat ajaran melukis dari guru-guru Belanda, lalu mengalami alam Eropa dikemudian hari.


#curatorchoice #bandungartmonth2020 #rifkyeffendy #bdgconnex2020 #edankeun

>> Curator Choice

Dalam Apropriasi
Praktek Apropriasi dalam karya-karya seni rupa kontemporer di Indonesia Oleh Rifky " Goro" Effendy @rifkygoro 
 
Apropriasi merupakan suatu metoda yang sering dilakukan dalam praktek seni rupa dalam beberapa dekade di Indonesia. Apropriasi menjadi suatu pendekatan kepada subyek : pembongkaran sejarah dan identitas. Apropriasi tak hanya dilakukan didalam dunia kesenian tetapi dalam praktek-praktek kreatif serta sosial-ekonomi lain, seperti periklanan, film dan sebagainya. Istilah apropriasi (approriation), atau kira-kira “ penyetaraan “, sering terdengar dalam berbagai perbincangan seni rupa , maupun budaya kontemporer. Terutama dalam diskusi yang menyangkut perkembangan budaya seni rupa pasca – modern (posmodern). Apropriasi selalu bersanding dengan jargon-jargon yang diuarkan kaum posmodernis, seperti allegory, parodi (pelesetan), eklektik atau bricolage. Aproprasi selalu mengandung gejala kemiripan atau keserupaan suatu imaji terhadap imaji lainnya. Seni rupa dengan kecenderungan apropriasi ternyata sangat lazim dipraktekan di barat sejak awal abad ke – 20 bahkan sebelumnya.
 
Sejarawan Robert S. Nelson, di sebutkan bahwa, mengapropriasi sesuatu yang melibatkan upaya “pengambil – alihan”. Dalam seni rupa barat , istilah apropriasi sering merujuk pada penggunaan elemen-elemen pinjaman dalam suatu kreasi karya seni. Peminjaman elemen tersebut termasuk citraan atau gambar, bentukan atau gaya dari sejarah seni atau budaya populer, maupun material serta teknik-teknik dari lingkup bukan seni.  Sejak dekade 1980-an istilah ini juga mengacu kepada yang lebih khusus, mengutip karya dari seniman lain untuk menciptakan suatu karya baru.  Dalam lingkup di Indonesia, kemunculan praktek seni modern menjadi problematik namun menarik. Pertama bahwa bentuk seni lukis tersebut diperkenalkan oleh Barat lewat proses kolonialisasi. Terutama berlangsung di abad 19, dimana pribumi seperti Raden Saleh Sjarif Bustaman (1807 – 1880) mendapat ajaran melukis dari guru-guru Belanda, lalu mengalami alam Eropa dikemudian hari.

Agus Suwage
Fragmen Pustaka-After Raden Saleh.watercolor,ink,tobacco juice on paper.2016. # Room of Mine#Tyler Rollins NY.

Fragmen Pustaka #2 - After Egon  Schiele.2017.watercolor,Ink,Tobacco juice on paper.100x130 cm.

Zico Albaiquni
Overture Comes from the Other Side
Oil on Canvas
150 x 100 cm
2020
“Courtesy of the artist and Yavuz Gallery”

Yogie Achmad Ginanjar
Understanding Raden Saleh
Oil on Canvas
40x40 cm

R.E Hartanto
Potret Diri Sebagai Pemimpin Sekte, variasi no.3
200x300cm
Cat minyak di atas kanvas
2018

Dua Mata Angin (diptik)
145x200cm
Cat minyak di atas kanvas
2019

Toni Antonius
“celebrate"
190X120 cm
Oil on canvas
2019

5. Adhya S. Ranadireksa 
Antara Hidup dan Mati.  Oil on Canvas  
140 x 200 Cm. 
2019

#curatorchoice #bandungartmonth2020 #rifkyeffendy #bdgconnex2020 #edankeun
 

© BDG Connex 2017 - 2020