BDG Connex
Shows Venues Artworks Artists Sign in Sign up ◼︎

Bermain Di Dua Kaki

Galeri Ruang Dini Aug 20th - Sep 9th

BERMAIN DI DUA KAKI : SENI CETAK GRAFIS DALAM BATAS YANG BERGERAK

Eksperimen mencetak para pegrafis Indonesia sejak tahun delapan puluh-an, telah mengarah dan meningkatkan bentuk serta varian karya-karya seni cetak grafis (printmaking).  Perkembangan ini menjadi lebih ekspansif seiring dengan berkembangnya teknologi cetak, dengan itu pula hadir usulan-usulan karya yang berusaha untuk mengatasi batas konvensi. Keadaan ini terlihat seolah-olah seni cetak grafis kehilangan pijakannya, namun sebenarnya seni cetak grafis tengah mengalami evolusi umum dengan membentuk dirinya menjadi lebih cair, namun tetap dalam wadah prinsip dasarnya yakni: mencetak.  
 
Ada tiga jalur kekaryaan dalam seni cetak grafis, yang pertama ialah seni grafis sebagai genre seni konvensional yang sepenuhnya mengikat diri pada bahan, teknik serta definisi grafis dalam kerangka  konvensional. Kedua  ialah dengan memperluas cakupan teknis sehingga hadir eksperimentasi teknik cetak tanpa bertentangan dengan  konvensinya, dan jalur ketiga ialah penciptaan karya dengan melewati dan mengabaikan batas-batas konvensi, memadukan berbagai proses, medium dan pemanfaatan teknologi.

Ketiga jalur tersebut tidak perlu diperdebatkan mana yang lebih unggul, karena dengan jalur manapun karya grafis dihasilkan, semuanya memliki peran bagi perkembangan seni grafis Indonesia. Bahkan kategori jalur tersebut menghadirkan dua sebutan menarik di medan seni grafis yakni: printmaker yaitu seniman yang telah menguasai teknik seni grafis tertentu, menguasai proses mencetak dengan benar, mengetahui peralatan dan juga memiliki pengetahuan akan bahan dan sebutan lainnya ialah print artists, sebutan bagi seniman yang memiliki kecenderungan untuk menghasilkan karya melalui proses mencetak tanpa harus memiliki kemampuan teknis atau bergelut dengan proses penciptaan matriks (plat acuan cetak). Para print artists umumnya memanfaatkan potensi teknologi cetak baru atau kemampuan printmaker dalam produksi karyanya. Hubungan ini menjadi lumrah dalam pola kerja seni cetak grafis, karena adanya adaptasi pola kerja industri cetak yang diberlakukan di beberapa studio seni cetak grafis. Pada prakteknya keduanya kerap berkolaborasi dalam proses penciptaan karyanya dan menyumbang beragam opsi keberagaman artistik. 

Evolusi seni cetak grafis bukanlah kejadian baru, sehingga dapat dikatakan ‘memang sudah seharusnya berkembang seperti itu’, maka dalam meramaikan evolusi ini, kami mengikutsertakan seniman-seniman terpilih untuk menghadirkan karya dengan memberikan keleluasaan batasan berkarya namun masih dalam konsepsi seni cetak yang menjadi nafas utamanya. 

Pameran ini menjadi awal dalam membaca apakah ekspansi seni cetak grafis ini merupakan bentuk dari keluarnya ia melampaui batas-batas konvensi, atau memang seni cetak grafis saat ini tengah memperluas bidangnya dan menawarkan konvensi baru? Seniman-seniman yang dipilih berasal dari beragam jalur, printmaker maupun print artists dan mereka akan mencoba untuk mendefinisikan ulang konsepsi seni grafis sehingga dapat memiliki perspektif baru dalam melihat potensi seni grafis atau menganalisa beragam kemungkinan teknik dan medium untuk menghasilkan kemutakhiran karya grafis yang ditunjang oleh pengetahuan baru akan kecakapan teknis dan pemahaman sifat mediumnya. 

Hal itu senada dengan apa yang disampaikan oleh Prof. Setiawan Sabana, “Saya menyimpulkan bahwa seni grafis Indonesia memerlukan terobosan-terobosan yang progresif, kalau perlu melakukan re-definisi, re-interpretasi dan re-evaluasi terhadap seluruh kerja seni yang memanfaatkan metoda cetak ini, termasuk keterkaitannya dengan berbagai pranata pendukungnya dalam konstelasinya dengan dunia seni rupa kontemporer dan kebudayaan Indonesia secara umum. Kalau tidak, jangan-jangan pegrafis-pegrafis kita hanyalah sedang berusaha menumbuhkan sejenis seni rupa cangkokan dari Barat yang boleh jadi sebetulnya tidak begitu cocok dengan kualifikasi dan aspirasi masyarakat seni dan kebudayaan Indonesia.” (Sabana, 1991)

 

Angga Aditya Atmadilaga



Berkembangnya pola kerja industri cetak semakin meningkatkan varian karya-karya seni cetak grafis (printmaking) di Indonesia. Eksperimen mencetak para pegrafis pun secara langsung mengevolusi jalur-jalur kekaryaan—sampai-sampai ada yang dinilai mengabaikan kerangka jalur konvensional dengan memadukan berbagai proses, medium, dan pemanfaatan teknologi. Namun, apakah benar demikian?

Pameran "Bermain di Dua Kaki” berusaha menunjukkan apakah ekspansi seni cetak grafis sekarang ini memang melampaui batas-batas konvensi, atau justru sedang memperluas bidangnya sekaligus menawarkan bentuk konvensi baru? Bersama dengan Studio Seni Grafis Institut Teknologi Bandung (ITB) dan dikuratori sekaligus oleh Angga Aditya Atmadilaga, pameran ini akan menampakkan karya-karya seni cetak grafis dari 11 seniman terpilih seperti: Prof. Setiawan Sabana,  Dr. Tisna Sanjaya, Amalia Febryana, Aurora Arazzi, Dey Irfan Adianto, Elia Yoesman, Kefan Shi, Sidney Islam, Tasia Sugiyanto, dan Zaldy Armansyah. Seniman-seniman tersebut dipilih berdasarkan berbagai jalur kekaryaan seni grafis. Mereka mencoba untuk mendefinisikan ulang konsepsi seni grafis sehingga dapat memiliki perspektif baru dalam melihat potensi seni grafis atau menganalisis berbagai kemungkinan teknik dan medium untuk menghasilkan kemutakhiran karya grafis yang ditunjang oleh pengetahuan baru akan kecakapan teknis dan pemahaman sifat mediumnya. 

                Hal itu senada dengan apa yang disampaikan oleh seniman grafis, dosen, sekaligus Guru Besar Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, Prof. Setiawan Sabana, yang menyimpulkan bahwa seni grafis Indonesia pada dasarnya memang memerlukan terobosan-terobosan progresif. Perlu adanya redefinisi, reinterpretasi dan reevaluasi terhadap seluruh kerja seni yang memanfaatkan metode cetak, termasuk keterkaitan berbagai pranata pendukungnya dalam konstelasinya dengan dunia seni rupa kontemporer dan kebudayaan Indonesia secara umum. Lebih lanjut, ia beranggapan bahwa “Kalau tidak (ada terobosan progresif yang relevan), jangan-jangan para pegrafis kita hanya sedang berusaha menumbuhkan sejenis seni rupa cangkokan dari Barat yang sebetulnya tidak begitu cocok dengan kualifikasi dan aspirasi masyarakat seni dan kebudayaan Indonesia.” ujarnya dalam Katalog Pameran Seni Grafis Indonesia (1999). Oleh karenanya, Pameran “Bermain di Dua Kaki” berusaha untuk menawarkan bentuk lain dari jalur kekaryaan seni grafis konvensional.

                Pameran ini dibuka untuk umum dengan perjanjian terlebih dahulu dan mengikuti protokol kesehatan, dari tanggal 20 Agustus – 9 April 2021. Pembukaan pameran akan diselenggarakan secara daring pada tanggal 20 Agustus 2021. Untuk info lebih lanjut dapat diakses di Instagram @galeriruangdini. 

Pembukaan Pameran Bermain Di Dua Kaki
Aug 20th, 12:0am - Sep 9th, 12:0am
Galeri Ruang Dini mengundang anda untuk mengikuti pembukaan Pameran "Bermain di Dua Kaki" yang diselenggarakan oleh Galeri Ruang Dini. Bersama dengan Studio Seni Grafis Institut Teknologi Bandung (ITB), pameran akan menampakkan karya-karya seni cetak grafis dari 11 seniman terpilih. Pameran ini dibuka untuk umum dengan mengikuti protokol kesehatan dari tanggal 20 Agustus – 9 September 2021. 

Pembukaan Pameran "Bermain di Dua Kaki" akan diselenggarakan secara daring pada:
Jumat, 20 Agustus 2021
Pukul 16.00 WIB

dapat diakses melalui Zoom Meeting:

https://bit.ly/PembukaanPameranBermainDiDuaKaki

Meeting ID: 876 1111 2672
Passcode: 950816

Kurator
Angga Aditya Atmadilaga

Pembukaan
Prof. Setiawan Sabana

Terimakasih, semoga kita semua dalam keadaan baik dan sehat selalu.

Untuk info lebih lanjut dapat diakses di Instagram @galeriruangdini.

Salam,
Galeri Ruang Dini
 

© BDG Connex 2017 - 2021