BDG Connex
Shows Venues Artworks Artists Sign in Sign up β—ΌοΈŽ

𝐨𝐧 π‘πžπ©π«πžπ¬πžπ§π­πšπ­π’π¨π§ (𝐌𝐞𝐧𝐲𝐨𝐚π₯ 𝐲𝐚𝐧𝐠 π‹π’π«πšππš)

Galeri Ruang Dini Jan, 14th - 4th

𝐨𝐧 π‘πžπ©π«πžπ¬πžπ§π­πšπ­π’π¨π§ (𝐌𝐞𝐧𝐲𝐨𝐚π₯ 𝐲𝐚𝐧𝐠 π‹π’π«πšππš)


This exhibition of 𝐨𝐧 π‘πžπ©π«πžπ¬πžπ§π­πšπ­π’π¨π§ (𝐌𝐞𝐧𝐲𝐨𝐚π₯ 𝐲𝐚𝐧𝐠 π‹π’π«πšππš) will showcase three prominent artists:
Bunga Yuridesipa (@iamyoshimi_)
Evi Pangestu (@evipangestu)
Tara Astari Kasenda (@taraaskas)

and curated by: Ganjar Gumilar (@gumilarganjar)

January 14th - February 4th, 2022

Exhibition Hours:
Tuesday – Sunday
10.00 am – 17.00 pm

at Galeri Ruang Dini
Jalan Anggrek No. 46, Bandung, Indonesia
__

Through the idea of representation, art can conduct social functions by responding to an actual social phenomenonβ€”so it triggers human consciousness. However, if the matter in question that's represented is getting more and more predominant, then how can aesthetics be placed in it?


__

#groupexhibition #galeriruangdini #diruangdini #blossomingthroughlifeΒ 

Rilisan Pers
PAMERAN BERSAMA
on Representation (Menyoal yang Lirada)
Bunga Yuridesipa, Evi Pangestu, dan Tara Astari Kasenda
Kurator: Gumilar Ganjar
14 Januari –  4 Februari 2022
Β  Β  Β  Β  Β  Β Β 

Β  Β  Β  Β  Β  Β  Representasi seni telah cukup mewacana dalam praktik seni rupa Indonesia. Ia bahkan dapat dinyatakan telah menjadi hal yang menentukan arah perkembangan. Melalui representasi, seni dapat menjalankan fungsi sosial dengan merespon fenomena-fenomena sosial yang aktual, hingga menjadi pemantik kesadaran. Hingga pada akhirnya wacana ini ini juga ikut andil dalam mengatur ragam konvensi yang dirujuk dalam aktivitas kolektif medan, menjadi acuan kualitas, proses penciptaan, pembacaan, hingga pemeriksaan suatu karya seni. Namun pada satu sisi, jika persoalan yang direpresentasikan kian mengutama, lantas bagaimana estetika dapat ditempatkan di dalamnya? Apa seni kontemporer berhenti pada pemenuhan fungsi dan utilitas sosial? Dimana karya bersama proses mencipta menjadi semacam wahananya?

Wacana representasi seni memang begitu cair dan inklusif, namun tetap tidak dapat menjelaskan totalitas fenomena seni kontemporer. Masih banyak karya yang sebetulnya tidak berpretensi menjadi representasi, merespon persoalan dengan cara-caranya yang lain. Patut disayangkan, karya-karya yang demikian ini kemudian dituding menjadi non-representasional, ringkasnya abstrak, yang sebetulnya bolehjadi tidak demikian. Tentu kehadiran dan kemenjadian karya-karya non-representasional ini membawa sensibilitas yang berbeda dengan abstrak yang sebelumnya: yang modern, yang esoterik, dan mengabdi pada dirinya sendiri. Perlu adanya sikap dan pendekatan lain dalam menghadapi karya-karya β€˜abstrak kontemporer ini’, untuk nantinya dapat benar-benar mengekstraksi, mensarikan, dan memaknai keutamaan-keutamaan yang ditawarkan. Pameran on Representation (Menyoal yang Lirada) kemudian, mencoba menjadi perwujudan awal upaya tersebut.

Pameran ini berkesempatan untuk menghadirkan sepilihan karya-karya yang menunjukkan gejala senin non-representasional atau abstrak kontemporer ini. Mereka antara lain: Bunga Yuridesipa, Evi Pangestu, dan Tara Astari Kasenda. Ketiganya menawarkan cara, pendekatan, dan sensibilitas baru dalam mengolah bentuk dan mengaitkan dengan intensi dan ungkapan yang hendak disampaikan.

on Representation (Menyoal yang Lirada) dibuka untuk umum dengan mengikuti protokol kesehatan dari 14 Januari - 4 FebruariΒ  2022. Pembukaan pameran akan diselenggarakan pada tanggal 14 Januari disusul dengan sesi wicara seniman di Galeri Ruang Dini. Info lebih lanjut dapat diakses di Instagram @galeriruangdini.

Β 

*) Istilah 'Lirada' diambil dari paparan Prof. Sudjoko dana 'Menuju Nirada' (1992). Istilah ini terbentuk dari imbuhan lir- atau lwir- yang artinnya 'seperti' dan ada yang artinya 'hadir'. Definisi yang demikan dapat dimkanai kongruen terahdap representasi, menjadi semacam: kembali menghadirkan untuk menyerupai yang ada. Begitupun tentang 'Nirada', dair nir- yang berarti 'tidak' dan 'ada', dalam pemaknaannya yang spesifik, Sudjoko menggunakan nirada untuk menggantikan istilah 'abstrak'.
Β 
Narahubung:
Muthia – 081382995424
Galeri Ruang Dini
Jalan Anggrek No. 46, Cihapit
Bandung Wetan, Bandung 40114
 

Β© BDG Connex 2017 - 2022